Tentu setiap dari kita menginginkan kehidupan yang bahagia. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam berbagai hal: saat bertemu keluarga atau teman, menikmati makanan setelah berolahraga, atau ketika memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan. Semua hal ini memang dapat membawa kebahagiaan. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita tetap bisa merasa bahagia ketika masalah demi masalah datang dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat terus hidup dalam kebahagiaan di tengah kesulitan?
Mazmur 1 menggambarkan dua tipe jalan hidup manusia. Jalan pertama adalah hidup yang diberkati—bahagia, makmur, dan penuh makna (Mazmur 1:1–3). Orang yang menempuh jalan ini menjadikan firman Tuhan sebagai kesukaan hatinya. Ia tidak sekadar mendengar atau membaca, tetapi merenungkannya dengan sungguh-sungguh dan menaati dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air: selalu mendapat sumber kehidupan, tetap subur, dan menghasilkan buah pada waktunya. Bahkan saat menghadapi masalah, ia tetap teguh dan mengalami kebahagiaan yang sejati.
Sebaliknya, jalan kedua adalah hidup yang menjauh dari firman Tuhan. Orang-orang di jalan ini tidak menjadikan perintah-Nya sebagai kesukaan, melainkan hanya mengikuti keinginan diri dan mengejar apa yang ditawarkan dunia. Akibatnya, hidup mereka menjadi hampa dan tidak berakar, seperti sekam yang ditiup angin – sia-sia. Pada akhirnya, jalan ini tidak membawa kepada kehidupan, melainkan kepada penghakiman.
Pernahkah kita menemukan seseorang yang benar-benar hidup menurut jalan pertama itu? Pada kenyataannya, hanya Tuhan Yesus yang sepenuhnya hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kesukaan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa, dan Dialah gambaran sempurna dari “pohon” yang ditanam di tepi aliran air. Dalam setiap pencobaan Ia tetap teguh (Matius 4:1–11) dan tidak pernah jatuh dalam dosa (Ibrani 4:15). Bahkan di tengah penderitaan, Ia tetap setia.
Jika mengikuti logika pemazmur, kita harus mengakui bahwa pada dasarnya kita termasuk dalam kelompok orang fasik. Hidup kita sia-sia yang layak menerima penghakiman. Jika kita jujur melihat diri sendiri, jangankan gagal hidup sesuai perintah Allah, merenungan Firman-Nya saja terkadang/seringkali kita lupa. Terkadang kita lebih tertarik pada hal-hal duniawi—kesuksesan, uang, relasi, atau pencapaian—dan menjadikannya sumber kebahagiaan. Padahal, semua itu bersifat sementara dan tidak memberi kepuasan sejati. Alhasil kita menjalani hidup yang sia-sia dan ketika kita mengalami masalah, hal-hal ini pun tidak dapat menolong kita.
Lalu, apakah itu berarti kita hidup tanpa harapan? Apakah hidup yang berbahagia dan berbuah itu tidak akan kita miliki? Tentu Tidak. Kabar baiknya adalah bahwa penderitaan Tuhan Yesus mencapai puncaknya di kayu salib, ketika Ia menanggung dosa-dosa kita. Bahkan karena dosa kita yang Ia tanggung, Ia mengalami penderitaan terberat yaitu keterpisahan dengan Allah (Matius 27:46).
Tuhan Yesus tahu bahwa kita tidak akan bisa hidup sempurna seperti-Nya dan justru karena itu Ia memanggil kita untuk hidup di dalam Dia –sebagai ranting-ranting-Nya. Ia ingin supaya kita tetap menjalani hidup yang taat dan mengikuti teladan-Nya bukan untuk diberkati, melainkan justru karena kita telah diberkati oleh pengorbanan-Nya (Yohanes 15:1–11; Roma 12:1-2). Roh Kudus yang diam dalam kita akan terus bekerja, membentuk hidup kita dan menghasilkan buah pada waktunya—buah yang mencerminkan kehidupan yang berakar pada Tuhan dan yang bahagia dan puas meski masalah demi masalah menimpa (Galatia 5:22–23).
Saat kita berjuang untuk hidup taat di tengah kesulitan, arahkan pandangan kepada-Nya –satu-satunya pohon yang di tanam di tepi aliran air itu, yang telah menebus dosa kita dan mengundang kita menjadi ranting-ranting-Nya. Biarlah kita menemukan kekuatan, penghiburan dan kebahagiaan dalam setia hidup kepada Firman-Nya.
Pertanyaan Renungan:
- Tilik kembali rutinitas kita sehari-hari. Apakah rutinitas kita mencerminkan bahwa kita mencari kebahagiaan di dunia ini atau di dalam Tuhan?
- Apakah kita menjalani hidup taat kepada Tuhan? Mengapa?
Doa:
Tuhan Yesus, aku mengucap syukur bahwa Engkau tahu aku tidak akan dapat memiliki berkat yang melimpah dari diriku sendiri, sehingga Engkau rela menjadi manusia dan mati di kayu salib menggantikanku. Terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk mengecap kebaikan-Mu dan berkat yang melimpah menjadi ranting-Mu. Ajarkanku untuk hidup taat dan setia kepada-Mu sebagai pengucapan syukurku.

Leave a Reply