Pernahkah kita berada dalam situasi hidup yang begitu sulit sehingga kita terus-menerus berdoa kepada Tuhan, tetapi seolah-olah tidak menemukan jawaban, bahkan tidak melihat pertolongan dalam bentuk apa pun? Mazmur 88 menggambarkan pergumulan seperti itu. Berbeda dengan kebanyakan mazmur yang berakhir dengan pengharapan, mazmur ini dipenuhi ratapan dari awal hingga akhir. Bahkan, kata terakhirnya adalah “kegelapan” (ay. 19), sehingga tidak sedikit orang bertanya mengapa mazmur yang begitu suram dimasukkan ke dalam Alkitab.
Pemazmur nampaknya sedang mengalami penderitaan berat, kemungkinan besar karena penyakit yang telah lama dideritanya (ay. 16). Dari kata-kata yang digunakan dalam doanya, kita bisa merasakan kedalaman penderitaan sang pemazmur. Ia berkata bahwa jiwanya kenyang dengan malapetaka (ay. 4), dirinya dianggap seperti orang mati (ay. 5), tidak punya kekuatan (ay. 6), merasa kesepian dan dikelilingi kegelapan (ay. 7, 9, 19). Ia merasa bahwa tangan Allah sendirilah yang membebankan penderitaan ini padanya (ay. 8, 17–18). Doa yang ia panjatkan ini bukanlah doa yang baru sekali ia ucapkan, melainkan seruan yang terus-menerus dan konsisten kepada Allah (ay. 2, 10, 14). Ketika saya membacanya pun, saya seakan-akan memberi jempol kepada pemazmur karena konsisten doanya.
Yang paling memilukan, pemazmur tidak mengerti mengapa ia harus mengalami semua ini. Ia rindu memuji Allah dalam hidupnya, namun hidup yang terus diperhadapkan dengan kematian dan kelemahan (ay. 11–13) membuatnya hal itu sulit. Mazmur ini tidak menawarkan resolusi—tidak ada kata-kata penghiburan, tidak ada akhir yang bahagia, hanya keputusasaan yang dalam. Apa yang pemazmur alami merupakan masa kegelapan rohani.
Namun, di tengah kedaulatan-Nya, Allah mengizinkan pemazmur mengalami semua ini. Meskipun ia terus memohon agar penderitaannya diangkat, hal itu tidak terjadi—penderitaan ini seolah menjadi bagian dari hidupnya. Meskipun demikia, pemazmur tetap tidak meninggalkan imannya kepada Allah. Fakta bahwa ia menulis mazmur ini adalah bukti bahwa ia tetap berharap, meskipun harapan itu tidak tampak sejelas yang kita bayangkan.
Mungkin kita pun pernah, sedang, atau akan mengalami masa-masa gelap seperti ini. Penderitaan semacam itu bisa menjadi bagian dari kehendak Allah dalam perjalanan kita mengikuti Kristus. Kabar baiknya adalah, Kristus telah memberikan teladan. Di atas kayu salib, Kristus sungguh-sungguh mengalami kegelapan seperti yang digambarkan pemazmur: keterpisahan dari Allah (Matius 27:46), ditinggalkan oleh orang-orang terdekat (Yohanes 18:27), dan bukan hanya merasa seperti orang mati—Ia sungguh-sungguh mati. Namun semua itu Ia alami bukan hanya untuk menjadi teladan, melainkan agar kita memiliki secercah harapan di tengah kegelapan. Kita tahu bahwa Kristus tidak tinggal diam di dalam kubur—Ia bangkit! Kebangkitan inilah yang memberikan harapan bahwa bahkan maut pun berada di bawah kuasa Allah.
Mazmur ini menunjukkan kejujuran emosi yang sangat dalam: duka, kesedihan, dan keputusasaan. Fakta bahwa Allah membiarkan mazmur ini menjadi bagian dari Alkitab membuktikan bahwa kesedihan bukan sesuatu yang harus kita hindari. Justru, itu adalah bagian dari perjalanan kita bersama Kristus. Dalam masa-masa seperti itulah, kita dapat terus-menerus menaruh pengharapan kita di bawah kuasa Allah, kuasa yang sama yang membangkitkan Kristus dari maut.
Kejujuran pemazmur juga mengajarkan kita untuk membawa semua pergumulan kita secara terbuka kepada Tuhan dalam doa. Kristus telah menanggung segala bantahan dan penderitaan agar kita tidak menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:3). Memang masa-masa duka tidak pernah menyenangkan, tetapi semua itu mendatangkan buah kebenaran yang menghasilkan damai sejahtera (Ibrani 12:11).
Pertanyaan Renungan:
- Apa yang kita pikirkan dan rasakan ketika melewati masa kegelapan rohani?
- Bagaimana kita dapat melihat kesederhanaan kebangkitan Kristus sebagai harapan dalam fase hidup sulit?
Doa:
Bapa, terima kasih karena melalui mazmur ini, aku diingatkan bahwa kegelapan rohani merupakan masa yang real dan bagian dari hidup. Terima kasih bahwa melaluinya, Engkau mengingatkan bahwa Engkau mengerti dan tidak melupakan. Biarlah dalam melewati fase ini kekuasaanmu atas segalanya memberikan harapan bagiku, karena aku tahu apa pun yang aku alami membuat ku semakin serupa dengan Kristus. Amin.

Leave a Reply