Pernahkah kita melakukan sesuatu dengan pikiran, “Kalau saya melakukan ini, Tuhan pasti akan memberkati saya”? Atau kita berusaha menghindari dosa bukan karena mengasihi Tuhan, melainkan supaya rencana kita berjalan lancar? Tanpa sadar, kita dapat memperlakukan ketaatan dan ibadah sebagai sebuah transaksi: kita memberi sesuatu kepada Allah agar Dia memberikan sesuatu kepada kita.
Mazmur 50 adalah salah satu mazmur yang ditulis oleh Asaf, seorang pemimpin pujian pada zaman Daud (1 Tawarikh 16:7). Mazmur ini mengingatkan kepada kita cara yang benar untuk beribadah kepada TUHAN.
Dalam Perjanjian Lama, sistem korban sembelihan digunakan sebagai sarana ibadah. Melalui korban ini, dosa diampuni, dan umat Allah dapat mengekspresikan penyembahan mereka. Namun, korban sembelihan, yang diberikan tanpa hati yang sungguh-sungguh, merupakan suatu hal yang sering terjadi. Esensi dari beribadah kepada Allah menjadi kosong, dan korban sembelihan hanya sekadar ritual atau bahkan transaksional. Bukan dengan hati yang bertobat atau kerinduan akan Allah, melainkan sebagai usaha “menyuap” Allah.
Inilah apa yang ingin Asaf sampaikan dalam mazmur ini. Asaf menekankan bahwa TUHAN tidak membutuhkan korban sembelihan itu sendiri. TUHAN adalah pemilik segala sesuatu, termasuk binatang yang digunakan untuk korban (ayat 9-13). Oleh karena itu, ketika korban dipersembahkan, yang diinginkan Allah bukanlah sekadar korban tersebut, melainkan hati yang tulus dan penuh rasa syukur dari umat-Nya (ayat 14; 1 Samuel 15:22; Hosea 6:6). Allah lebih menghendaki rasa syukur yang sejati daripada aroma korban sembelihan (ayat 23).
Saat ini, kita tidak lagi membutuhkan korban sembelihan karena Tuhan Yesus telah menjadi korban yang sempurna untuk pengampunan dosa kita. Sebaliknya, Allah inginkan bahwa kita menggunakan hidup kita sebagai korban yang berkenan kepada-Nya (Roma 12:1). Salah satunya adalah dengan hidup mengucap syukur atas Allah dan anugerah-Nya.
Artinya apa yang kita lakukan di dunia ini lebih dari rutinitas, apa yang kita lakukan bukanlah usaha menyogok Allah, melainkan ungkapan syukur dan kemuliaan kepada-Nya.
Ibadah yang sejati adalah lebih dari sekadar aktivitas rohani seperti pengakuan dosa, pelayanan, membaca firman, doa, atau nyanyian. Ibadah tidak terbatas pada gedung gereja, melainkan meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Justru hidup kita adalah ibadah; hidup kita harus menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
Pertanyaan Renungan:
- Apakah hidup kita merupakan rutinitas atau kita melihat hidup kita sebagai bagian dari ibadah kepada Allah?
- Apakah kita menunggu berkat lebih dari Allah agar dapat bersyukur atau kita mengucap syukur karena Ia telah memberkati kita melalui Kristus?
Doa:
Bapa, terima kasih atas kasih dan anugerah-Mu yang Engkau tunjukkan bagiku melalui Kristus. Ia telah menjadi korban menggantikan dosaku untuk sekali dan selama-lamanya. Bentuklah aku dan jadikanlah hidupku sebagai ibadah yang sejati kepada-Mu dan ajarlah aku untuk senantiasa mengucap syukur. Amin.

Leave a Reply