,

Ketika musik berhenti

Mazmur 134

Pernahkah kita berpikir bahwa kita lebih mudah memuji Tuhan pada hari minggu? Ketika musik di gereja begitu indah, hati terasa hangat, dan kita dikelilingi oleh jemaat yang bernyanyi bersama. Namun, bagaimana dengan hari-hari lainnya? Apakah hati kita tetap memuji Dia?

Mazmur 134 merupakah mazmur terakhir dari rangkaian lima belas mazmur dengan judul “Nyanyian Ziarah”. Nyanyian ziarah ini dinyanyikan saat perjalanan para umat Yahudi ke Yerusalem untuk menghadiri salah satu dari tiga perayaan utama tahunan Yahudi.

Nyanyian mazmur ini ditujukan kepada pekerja bait Allah, khususnya mereka yang bekerja pada giliran malam. Tugas mereka pada waktu malam adalah menjaga dan membuka bait Allah (1 Tawarikh 9:27) serta menjaga supaya api di atas mezbah tetap menyala (Imamat 6:12-13).

Bayangkan suasana itu. Malam telah larut. Bait Allah menjadi sunyi. Tidak banyak orang yang masih berada di sana. Satu-satunya cahaya berasal dari api di atas mezbah, sementara udara malam mulai terasa dingin. Dalam suasana seperti itulah para imam tetap berjaga dan melayani Tuhan.

Saat perayaan berakhir dan para peziarah bersiap meninggalkan kota pada malam hari atau saat fajar menyingsing, mereka menengadah ke arah Bait Allah yang bercahaya. Melihat obor-obor dan para imam yang berdiri di atas tembok benteng, para peziarah yang hendak pergi itu menyerukan kata-kata penyemangat terakhir bagi mereka yang bertugas pada giliran malam untuk tetap memuji Allah.

Ketika siang hari, saat langit masih cerah dan seluruh daerah bait Allah dipenuhi dengan musik serta ramai dengan pengunjung, nampaknya relatif mudah untuk memuji Tuhan. Tetapi langit sudah gelap, udara mendingin, musik memelan dan pengunjung semakin sepi, nyanyian pujian menjadi suatu hal yang relatif sulit. Semangat dan motivasi menurun.

Mungkin bagi kita juga demikian, memuji Tuhan di gereja dengan musik yang indah dan dengan seluruh jemaat bersama-sama bernyanyi relatif lebih mudah daripada untuk memuji Tuhan contohnya: ketika kita sedang sendirian atau tidak ada yang melihat, ketika situasi hidup sedang stagnan, atau bahkan ketika apa yang kita hadapi diluar dari apa yang kita harapkan.

Tentu itu suatu hal yang indah untuk bernyanyi dengan musik yang indah serta bersama dengan jemaat. Tetapi untuk memuji Tuhan bukanlah sekedar tentang melodi, bukan sekedar ketika merasakannya enak dan bahkan bukan saja ketika situasi sesuai yang kita harapkan. Mazmur ini mengingatkan kita untuk memuji Allah, meskipun itu semua ini tidak ada.

Artinya, ketika kita sedang sendirian, atau ketika tidak ada melodi yang mengiringi pujian kita atau bahkan ketika apa yang kita hadapi saat ini tidak sesuai harapan kita, kita tetap perlu memuji dan menyembah Tuhan, besyukur atas anugerah dan kuasa-Nya, melihat kebesaran dan kemuliaan Tuhan, serta bersukacita karena Dialah Allah kita.

Inilah inti dari penyembahan, kita tidak memuji Tuhan karena keadaan kita baik. Kita memuji Tuhan karena Dia tetap baik. Penyembahan tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada Pribadi yang kita sembah.

Mazmur 134 mengingatkan bahwa penyembahan sejati tidak bergantung pada suasana, musik, ataupun keadaan hidup – karena penyembahan kita bukan tentang kita, melainkan seluruhnya tentang Allah kita. Dalam waktu apapun dan situasi apapun, Allah tetap layak dipuji. Matt Redman menciptakan suatu lagu “the heart of worship” dan saya rasa bagian Reff menyimpulkan ini dengan baik:

I’m comin’ back to the heart of worship
And it’s all about You
It’s all about You, Jesus.

Pertanyaan Renungan:

  1. Apakah pujian kita kepada Tuhan terpisah pada hari minggu dari hari-hari lainnya?
  2. Bagaimana kita bisa tetap memuji Tuhan, meskipun situasi tidak mendukung atau relatif lebih sulit untuk memuji-Nya?

Doa:

Terpujilah-Mu Tuhan, sebab Kau baik. Kasih setia dan rahmat-Mu baru setiap pagi. Aku mau mengangkat tanganku dan memuji-Mu. Tolonglah aku Tuhan, bangkitkanlah jiwaku untuk memuji-Mu karena Engkau layak dipuji. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading