Pernahkah kita keluar dari ibadah dengan perasaan seperti hadirat Tuhan sungguh nyata di ibadah tersebut?
Kita merasakan demikian mungkin karena musik yang indah, lagu yang dinyanyikan tepat dengan kondisi hati kita atau suasananya begitu tenang sampai kita merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita tanyakan: Bagaimana kalau minggu depan terasa biasa saja? atau bahkan bagaimana kehidupan kita dari hari ke hari selain hari minggu?
Mazmur 100 membawa kita kepada dasar yang lebih kuat daripada perasaan. Pemazmur memuji bukan karena suasana yang sedang ia rasakan, tetapi karena ia mengenal siapa Allah yang ia sembah. Pujian itu bukan sekadar rutinitas atau “sogokan” rohani, melainkan luapan kesadaran akan pribadi Allah.
Hal ini terlihat ketika pemazmur memberikan alasan yang jelas mengapa Allah layak dipuji:
Pertama, ia sadar bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sementara dirinya hanyalah ciptaan. Namun, Sang Pencipta itu bukan Allah yang jauh. Ia justru menjadikan kita milik-Nya dan memelihara kita sebagai kawanan domba gembalaan-Nya (ay.3). Artinya, Allah tidak bertindak sebagai penguasa yang kejam atau tidak peduli, melainkan menjalin relasi yang penuh kasih dengan umat-Nya.
Kedua, pemazmur memuji Allah karena kasih setia-Nya yang kekal dan kesetiaan-Nya yang turun-temurun (ay. 5). Baik dalam suka maupun duka, ia mengalami, mengakui dan mengonfirmasi bahwa kasih setia Allah selalu hadir, menuntun, dan menopang hidupnya.
Ini bukanlah pujian yang hampa atau tak berarti, melainkan pujian yang diilhami oleh pengetahuan pemazmur tentang siapa Allah itu.
Ia tidak memuji Allah yang tidak ia kenal, tidak melihat Allah sebagai tiran jahat, dan tidak menyembah hanya karena rutinitas, tekanan sosial atau bahkan karena suasana sesaat. Sebaliknya, pujian itu berakar pada pengalaman nyata dan pengetahuan yang sehat tentang Allah.
Ia memuji Allah karena ia telah mengalami dan mengenal Allah. Pengetahuan yang ia dapati setelah mengalami dan mengenal Allah tidak berhenti di pikirannya saja, melainkan meluap keluar dalam bentuk penyembahan yang hidup. Artinya pujian yang sejati adalah dampak dari pengenalan yang mendalam, bukan sekadar sebab untuk membentuk “perasaan rohani”. Pujian pemazmur bukan dasar yang membentuk pikiran dan hatinya, melainkan hati dan pikirannya merupakan dasar yang mendorong pujian dan penyembahannya.
Hal ini penting untuk kita renungkan. Di zaman sekarang, pujian sering diukur dari rasa “enak”, “damai”, “tenang”, atau “khusyuk”. Pertanyaannya: apakah konsep kita tentang pujian benar, atau justru terbalik? Tanpa pengetahuan sejati tentang Allah, penyembahan mudah menyimpang, karena pusatnya bukan lagi Allah, melainkan diri kita sendiri.
Kristus merupakan Firman yang menjadi manusia. Ia tidak datang hanya untuk menebus kita dari dosa-dosa kita, tetapi juga agar kita dapat mengenal Allah lebih dalam melalui Dia.
Ia tidak menginginkan penyembahan yang kosong atau ritual tanpa makna. Ia tidak ingin kita melakukan berbagai kegiatan rohani tanpa mengenal Dia. Ia rindu agar umat-Nya mengenal dan mengalami Allah, serta menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:22–24). Melalui Firman, orang percaya dipanggil untuk bertumbuh dalam pengetahuan akan Allah, sehingga pujian dan penyembahan kita tidak dangkal, melainkan berakar kuat dalam pengenalan yang sejati kepada-Nya.
Pertanyaan Renungan:
- Bagaimana pandangan kita tentang penyembahan? Apakah kita mengukur penyembahan kita karena perasaan kita semata atau apakah penyembahan kita meluap dari pengenalan sejati kita akan Allah?
- Kita bisa saja giat belajar Firman Tuhan, doktrin dan hal-hal teologis. Tetapi apakah itu hanya tetap sebagai informasi di pikiran kita ataukah pembelajaran itu membawa kita untuk memuji dan menyembah Allah?
Doa:
Tuhan, tinggallah di dalam aku dan tolonglah aku untuk tinggal di dalam-Mu, sehingga aku dapat mengenal dan mengalami Engkau lebih dalam lagi. Dan biarlah pengenalan dan pengalamanku bersama dengan-Mu dapat mendorong dan membawaku untuk memuji dan menyembah Engkau. Tuhan, biarlah pujian dan penyembahanku kepada-Mu merupakan suatu pujian dan penyembahan yang harum. Amin.

Leave a Reply