Markus 9: 14-29

Pernahkah kita merasa bahwa iman kita tidak cukup besar untuk menghadapi masalah yang sedang kita alami? Ketika doa belum dijawab atau keadaan tidak kunjung berubah, kita mungkin mulai bertanya apakah kita kurang percaya kepada Tuhan. Kita melihat orang lain yang tampaknya begitu kuat imannya, sementara kita sendiri masih dipenuhi ketakutan dan keraguan. Tanpa sadar, kita menganggap bahwa pertolongan Tuhan bergantung pada seberapa besar iman yang kita miliki. Namun, kisah dalam Markus 9 mengajak kita melihat kembali kepada siapa sesungguhnya iman kita tertuju.

Dalam Markus 9:14-29, seorang ayah membawa anaknya yang menderita karena roh jahat kepada Yesus. Setelah murid-murid Yesus gagal menolong anak itu, sang ayah memohon kepada Yesus, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (ay. 22). Di dalam permohonannya, kita melihat harapan yang bercampur dengan keraguan. Yesus kemudian menjawab bahwa segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya (ay. 23). Sang ayah pun berseru, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (ay. 24). Ia tidak berpura-pura memiliki iman yang sempurna. Ia mengakui kelemahannya dengan jujur, tetapi tetap datang kepada Yesus untuk meminta pertolongan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kita sering kali terlalu berfokus pada besarnya iman kita, sampai lupa memperhatikan siapa yang menjadi objek iman kita. Bayangkan seseorang yang hendak duduk di sebuah kursi. Apakah kursi itu akan mampu menopang tubuhnya ditentukan oleh seberapa yakin orang tersebut bahwa kursinya kuat? Seseorang bisa duduk dengan penuh keyakinan sambil berkata, “Saya yakin kursi ini pasti kuat,” tetapi jika kursi itu rapuh dan tidak mampu menopang berat tubuhnya, keyakinannya tidak akan membuat kursi tersebut menjadi kokoh. Sebaliknya, seseorang bisa duduk dengan sedikit keraguan dan ketakutan, tetapi jika kursi itu memang kokoh, kursi tersebut tetap mampu menopangnya. Tentu saja, analogi ini memiliki keterbatasan, tetapi ia membantu kita memahami satu hal: keyakinan kita tidak dengan sendirinya menentukan kualitas dari sesuatu yang kita percayai.

Sering kali, ketika menghadapi pergumulan, kita justru semakin lelah karena terus-menerus memeriksa diri sendiri. Kita bertanya apakah kita sudah cukup berdoa, cukup percaya, atau cukup kuat untuk menghadapi keadaan. Tentu semua hal tersebut adalah hal yang baik untuk kita periksa. Namun, ayah dalam kisah ini menunjukkan bahwa kita tidak harus menyelesaikan seluruh keraguan kita terlebih dahulu sebelum datang kepada Tuhan. Ada perbedaan antara membiarkan keraguan menjauhkan kita dari Tuhan dan membawa keraguan itu kepada-Nya. Kita boleh datang dengan hati yang takut, iman yang goyah, dan doa yang sederhana. Justru ketika menyadari kelemahan kita, kita belajar untuk semakin bergantung kepada-Nya.

Jika hari ini kita sedang letih dan merasa iman kita semakin kecil, jangan sampai kita terlalu sibuk mengukur seberapa besar iman kita sampai lupa melihat kepada siapa iman kita tertuju. Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Kita boleh datang dengan jujur, seperti ayah tersebut, dan berdoa, “Tuhan, aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Kita mungkin tidak selalu merasa yakin, tetapi kita tetap dapat belajar bersandar kepada Tuhan yang layak dipercayai. Sebab pengharapan kita tidak bertumpu pada kesempurnaan iman kita, melainkan pada kesetiaan-Nya yang tidak berubah.

Pertanyaan Renungan:

  1. Ketika menghadapi pergumulan, apakah aku lebih berfokus pada lemahnya imanku atau pada kesetiaan Tuhan?
  2. Adakah ketakutan atau keraguan yang perlu kubawa dengan jujur kepada Tuhan hari ini?

Doa:

Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa sering kali kami merasa lelah dan takut karena iman kami terasa begitu lemah. Kami terlalu sibuk mengukur diri sendiri sampai lupa memandang kepada-Mu. Ajarlah kami untuk datang dengan jujur, tanpa berpura-pura kuat dan tanpa menyembunyikan keraguan kami. Ketika iman kami goyah dan jawaban doa belum terlihat, tolonglah kami untuk tetap bersandar kepada-Mu. Biarlah kami semakin mengenal kesetiaan-Mu dan percaya bahwa Engkau tetap menjadi sandaran kami, bahkan ketika kami merasa lemah. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading