,

Dipilih Bukan Karena Layak

Kejadian 48

Dalam Kejadian 48, kita membaca peristiwa yang unik dan cukup mengejutkan. Yakub, yang sudah tua dan hampir buta, dipanggil untuk memberkati dua anak Yusuf, yakni Manasye dan Efraim. Secara budaya, seharusnya Manasye diprioritaskan dalam berkat karena dia adalah anak sulung. Di dunia perjanjian lama, anak sulung laki-laki biasanya dianggap penerus utama keluarga. Ia yang akan meneruskan nama, kepemimpinan, dan kepemilikan harta keluarga. Itu sebabnya ada yang disebut “hak kesulungan” (bekorah dalam bahasa Ibrani). Anak pertama biasanya yang didahulukan, yang paling diutamakan, yang seolah-olah “berhak” atas yang lebih besar. Tapi justru di sini Yakub melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dengan sengaja, ia menyilangkan tangannya dan menaruh tangan kanan, yang menjadi simbol kekuatan dan berkat utama, di atas kepala Efraim, si bungsu. Yusuf pun protes, ia berpikir ayahnya sudah rabun dan salah menaruh tangan. Tapi Yakub berkata tegas: “Aku tahu, anakku, aku tahu.“, yang menunjukan bahwa dia dengan sadar menempatkan Efraim di posisi utama.

Kejadian ini tidak sekadar cerita tentang dua anak. Ini gambaran yang lebih besar tentang siapa Allah kita dan bagaimana Dia bekerja. Allah seringkali tidak memilih sesuai urutan atau logika manusia. Ia tidak terikat dengan sistem dunia. Ia tidak melihat siapa yang lebih “berhak” menurut pandangan orang. Terkadang Ia memilih yang kecil, yang dianggap tidak layak, yang dipandang remeh. Dari Habel (Kejadian 4), Yakub sendiri (Kejadian 25), Daud si anak bungsu, sampai para murid Yesus yang hanya-lah nelayan biasa, seolah semua itu menunjuk pada pola yang sama.

Kalau kita coba renungkan, dunia kita sangat berbeda dengan cara Allah bekerja. Sering kali dunia menghargai kita kalau kita punya kuasa, uang, kepandaian, atau penampilan. Baru setelah itu kita dianggap berarti. Seringkali kita sendiri pun terjebak menilai diri maupun orang lain dengan standar itu. Tapi peristiwa ini menunjukkan kita bahwa Allah melihat dengan cara yang lain, bukan dengan standar manusia. Ia melihat hati. Ia memberi kasih karunia, bukan karena kita layak, tapi justru karena kita yang tidak layak menjadi dilayakkan.

Mungkin seringkali kita merasa “bukan siapa-siapa” dibandingkan dengan orang lain. Ada banyak orang yang lebih pintar, lebih hebat, lebih berhasil. Tapi kisah ini meneguhkan kita, bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh perbandingan atau pencapaian. Nilai kita ditentukan oleh Allah yang memilih untuk mengasihi saya dengan anugerah-Nya.

Dan di sisi lain, ini juga menantang saya. Kalau Allah saja mau mengangkat yang lemah dan kecil, apakah saya juga rela melihat orang lain dengan cara itu? Atau saya masih sibuk mengukur orang dengan standar dunia? Kiranya Tuhan menuntun kita setiap harinya untuk semakin melihat dunia dan orang-orang di sekitar kita melalui kacamata Kristus. Bersyukurlah, sebab Allah kita adalah Allah yang beranugerah. Ia tidak pernah salah menaruh tangan-Nya.

Pertanyaan Renungan:

  1. Apakah saya sungguh percaya bahwa identitas saya ada dalam kasih karunia Allah, bukan pada prestasi atau status di dunia?
  2. Apakah saya sudah belajar melihat orang lain dengan kacamata Allah, bukan dengan kacamata dunia?

Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengasihi kami bukan karena kami layak, tetapi karena anugerah-Mu. Tolong kami percaya pada cara-Mu bekerja, meskipun sering tidak sesuai dengan logika kami. Ajari kami melihat diri sendiri dan orang lain seperti Engkau melihat. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading