Mazmur 103

Pernahkah kita begitu senang mendapat balasan chat dari orang yang kita cintai. Setiap bunyi notifikasi membuat tersenyum, bahkan merasa hari itu menjadi lebih indah hanya karena beberapa kata sederhana. Namun setelah waktu berjalan lama, pesan yang sama mulai terasa biasa; dibaca sekilas, kadang diabaikan, karena hati sudah terlalu terbiasa menerimanya.

Mazmur 103 mengajak kita berhenti sejenak dan kembali merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita. Mazmur ini adalah pujian Daud atas segala kebaikan dan kasih setia Tuhan, terutama dalam hal pengampunan dosa. Ketika kita berbicara tentang kasih Allah, apa yang terlintas di benak kita? Mungkin itu adalah berkat-berkat materi yang Ia berikan, prestasi yang Ia izinkan untuk kita raih, atau relasi yang indah dengan teman dan keluarga yang Ia anugerahkan. Semua itu memang merupakan berkat dari Allah yang patut kita syukuri dan nikmati. Namun, pernahkah kita merenungkan: apa sebenarnya berkat terbesar yang Allah berikan kepada kita?

Daud tidak hanya melihat Allah sebagai pemberi berkat jasmani seperti kesehatan, keluarga, atau keberhasilan, tetapi sebagai Pribadi yang terlebih dahulu mengampuni dosanya. Semua berkat itu patut disyukuri, tetapi Daud menuntun kita pada satu pertanyaan penting: apakah yang sebenarnya menjadi berkat terbesar dari Allah?

Bagi Daud, inilah berkat terbesar yang dapat Allah berikan adalah pengampunan dosa. Ia menyadari bahwa dosanya terutama adalah terhadap Allah (Mazmur 51:6), dan bahwa ia tidak mampu menghapus dosanya sendiri. Ia menggambarkan dirinya seperti orang yang terperangkap dalam lubang maut tanpa harapan (ay. 4).

Namun justru di tengah kesadaran akan kelemahan itu, Daud melihat betapa besar kasih Allah. Ia menyadari bahwa manusia sangat rapuh—seperti debu yang mudah hilang (ay. 14–16)—tetapi Allah tetap mengasihi dengan kasih yang kekal (ay. 17). Kasih itu digambarkan setinggi langit di atas bumi (ay. 11), dan pengampunan-Nya sejauh timur dari barat (ay. 12), menunjukkan pengampunan yang sempurna dan tidak terbatas. Kesadaran akan dosanya dan ketidakmampuannya justru membuat Daud semakin memahami besarnya kasih Allah yang sejati.

Dosa bukanlah kesalahan kecil yang bisa dihapus dengan tombol “hapus” atau “Ctrl+Z”. Ketika seseorang berdosa, dosa itu sungguh terjadi dan tidak bisa dibatalkan. Dosa juga bukan persoalan ringan, karena yang menentukan keseriusannya bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi kepada siapa pelanggaran itu ditujukan—yaitu kepada Allah yang kudus. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghapus dosa kita, dan Allah tahu bahwa kita hanyalah debu (ay. 14).

Namun, inilah kabar baik Injil: ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati bagi kita untuk mengampuni dosa-dosa kita (Roma 5:9). Semua itu Kristus lakukan, agar dengan darah-Nya yang mahal kita dapat secara cuma-cuma menerima pengampunan dosa. Melalui Kristus, Allah menunjukkan kasih-Nya yang terbesar—memberikan jalan keselamatan agar kita luput dari murka-Nya dan diperdamaikan dengan-Nya.

Sadarkah kita akan berkat terbesar Allah ini? Ataukah kita merasa bosan dengan hal ini? Sering kali, kita melupakan berkat terbesar ini. Kita terbiasa mendengarnya tanpa lagi merasa takjub, justru kita menerima begitu saja. Karena itu, seperti Daud yang memanggil jiwanya untuk memuji Allah (ay. 1–2), kita pun perlu senantiasa mengingatkan diri sendiri dan orang lain tentang kasih pengampunan ini. Kita tidak dapat mengerti kasih setia Allah, rahmat dan pengampunan-Nya di luar dari pemahaman kita tentang pelanggaran kita terhadap kekudusan Allah. Hanya ketika kita benar-benar menyadari betapa besar dan gelapnya dosa kita, barulah kita dapat memahami betapa dalam dan luasnya kasih Allah kepada kita.

Pertanyaan Renungan:

  1. Berdiam dirilah sejenak dan bayangkan kembali kasih Kristus dalam hidupmu.
  2. Kasih yang besar mengalir dari hati yang menyadari bahwa ia telah diampuni. Bagaimana kita dapat meresponi kasih Allah di dalam apapun yang kita lakukan hari ini?

Doa:

Allah Bapa, tolonglah aku untuk melihat betapa bobroknya dosaku dan seberapa jauh pelanggaranku, sehingga aku dapat memahami lebih dalam betapa besarnya kasih setia-Mu kepadaku. Berilah aku pengertian lebih dalam tentang kasih setia-Mu, agar aku dapat mengasihi-Mu lebih lagi.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading