Berikut merupakan refleksi bagian 1 dari 4 mengenai lagu “knowing we are his”

Didalam alkitab, Yesus Kristus juga disebut sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Pribadi Kedua dalam Tritunggal itu turun ke dunia dan menjadi Anak Domba untuk korban. Korban untuk apa? Untuk menebus kita orang percaya (Markus 10:45). Dari apa? Upah dosa kita… yaitu maut yang kekal!(Roma 6:23, Yakobus 1:15). Upah dosa kita adalah dipisahkan selamanya dari Allah dan menanggung hukuman kebinasaan yang kekal (2 Tesalonika 1:8-9).

Namun, betapa tidak layak-Nya kita dihadapan Tuhan. Bahkan kita yang sudah ditebus oleh kematian-Nya di atas kayu salib, kita ini pada dasarnya tidak pernah mau benar-benar mencari Allah (Roma 3:10-11). Manusia yang merupakan ciptaan-Nya sendiri, yang Tuhan kasihi sedemikian rupa sehingga rela mengenakan mahkota duri, yang merupakan gambaran penderitaan, kesakitan, dan penghinaan yang terbesar (Matius 27:29), justru menolak Dia (Yesaya 53:3, Yohanes 1:11). Itulah dampak maut dosa yang kita bawa sejak lahir (Mazmur 51:5, Efesus 2:1-3). Bahkan kita yang sekarang sudah menjadi orang percaya, dulu merupakan musuh-Nya (Roma 5:10). Kita membuat berhala kita sendiri dan menyembahnya (Mazmur 106:35-37). Bahkan sekarang sebagai orang percaya, kita masih bergumul dan kadang-kadang masih mengikuti keinginan daging yang masih tersisa di dalam diri kita (Galatia 5:17, 1 Yohanes 1:8-9).

“Manusia yang merupakan ciptaan-Nya sendiri, yang Tuhan kasihi sedemikian rupa sehingga rela mengenakan mahkota duri, yang merupakan gambaran penderitaan, kesakitan, dan penghinaan yang terbesar, justru menolak Dia.”

Tetapi Allah mendengar erangan kita di tengah penderitaan (Mazmur 102:19-20, Keluaran 3:7). Ia rela meninggalkan kemuliaan surga untuk mencari kita yang tersesat (Lukas 19:10, Lukas 15:4). Apakah anak manusia, sehingga Tuhan mengindahkannya? Setiap kita orang percaya adalah seperti domba yang bodoh dan tersesat, yang dibawa kembali di pundak-Nya ke tempat yang aman—dan Ia melakukan hal tersebut dengan sukacita yang besar (Lukas 15:5). Kita digambarkan sebagai domba – binatang yang mudah tersesat, rentan, dan tidak berdaya sendiri menghadapi pemangsa.

Bahkan iman kita itu pun pada akhirnya adalah karunia dari Allah, seperti yang ditulis Rasul Paulus. Ya! Iman kita adalah hasil pekerjaan tangan Tuhan (Yohanes 6:29, Yehezkiel 36:26-27). Betapa besar Kasih Allah! Betapa besar karya Tuhan kita di kayu salib dan di dalam hidup kita! Betapa mahalnya harga yang dibayar Tuhan Yesus untuk kita. “…Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”

“Meskipun tidak ada suatu apapun di dalam diri kita yang membuat kita pantas, Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita orang percaya dan menyelamatkan kita oleh kasih karunia-Nya melalui iman.”

Kepada saudara-saudaraku yang dikasihi dalam Kristus: Tuhan kita, Yesus Kristus, yang rela meninggalkan kemuliaan-Nya untuk kita (Filipi 2:7), yang rela menumpahkan darah dan menyerahkan nyawa-Nya di Kalvari untuk menebus kita (1 Petrus 1:18-19), Ia menyertai engkau selalu (Matius 28:20)! Ingatlah bahwa Ia adalah gembala yang mati bagi domba-domba-Nya (Yohanes 10:11)! Ketahuilah bahwa engkau sebagai orang percaya adalah domba-Nya yang Ia bawa kembali di pundak-Nya sendiri (Mazmur 100:3). Engkau adalah milik-Nya (Yesaya 43:1) dan engkau aman di tangan-Nya (Yohanes 10:28-29). Biarlah hatimu penuh damai Sejahtera daripada Tuhan kita karena gembala kita Yesus Kristus telah mengambil tempat sebagai Anak Domba untuk korban penebusan engkau dan aku! Tuhan Yesus memberkatimu !

Berikut adalah puisi dan nyanyian yang membantu mengingatkan hal-hal diatas:

Rejected by His very own,
Bore He our sin and heard our groan.
Though crowned with thorns yet His love shone.
O praise the Lamb upon the throne!

O what is man that He should mind?
What are we that He came to find?
He’d leave behind the ninety-nine,
To seek a wretched lost soul like mine.

I was an enemy,
yet still He ransomed me,
up there on Calvary.

No greater joy than this,
No truer peace nor bliss,
Than knowing we are His


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading