Nehemia 1

Berikut merupakan bagian 1 dari 8 seri renungan “Membangun dan memelihara iman” dari kitab nehemia

Kitab Nehemia dibuka dengan satu situasi besar yang menjadi latar seluruh ceritanya. Yerusalem, kota yang seharusnya menjadi pusat ibadah dan identitas umat Allah, berada dalam keadaan rusak dan memalukan setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel. Temboknya runtuh, pintu-pintu gerbangnya terbakar, dan orang-orang yang tinggal di sana hidup dalam tekanan dan rasa malu. Di tengah kondisi itu, muncul sosok Nehemia. Ia bukan orang yang hidup di Yerusalem saat itu, melainkan tinggal jauh di Susan, pusat pemerintahan Persia. Ia memiliki posisi yang aman dan terhormat sebagai juru minum Raja Artahsasta. Secara manusia, hidup Nehemia stabil dan tidak bersentuhan langsung dengan penderitaan bangsanya. Namun semuanya berubah ketika ia mendengar laporan dari Hanani tentang keadaan Yehuda dan Yerusalem yang sedang dalam kesusahan besar, kehinaan, dan kota yang hancur (ayat 3). Kabar itu mengguncang hati Nehemia dan menjadi titik awal dari perjalanan iman yang besar.

Alkitab mencatat bahwa respons pertamanya bukan tindakan, melainkan tangisan. Nehemia duduk, menangis, berkabung beberapa hari, lalu berpuasa dan berdoa di hadapan Allah (ayat 4). Ia berhenti dari kesibukannya dan memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja di dalam hatinya. Nehemia tidak mengeraskan hati, tidak menunda, dan tidak berkata bahwa itu bukan tanggung jawabnya. Di sisi lainnya, Nehemia juga menunjukkan bahwa kepedulian bukan sekadar mengetahui masalah dan langsung asal bertindak saja, melainkan membawa kerinduan ini ke hadapan Allah. Ini menandakan penyerahan diri kepada Allah yang sepenuhnya, bukan mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Hal ini dapat kita lihat di dalam doanya, Nehemia mengarahkan pandangannya terlebih dahulu kepada siapa Allah itu. Ia menyebut TUHAN sebagai Allah yang besar dan dahsyat, yang setia memegang perjanjian dan kasih setia-Nya (ayat 5). Di tengah kabar kehancuran, Nehemia memilih mengingat kesetiaan TUHAN. Ia tidak membangun doanya hanya di atas perasaan, tetapi di atas pengenalan akan karakter Allah. Dari sini kita belajar bahwa doa yang lahir dari hati yang peduli selalu berangkat dari iman dan kebergantungan pada Allah.

Nehemia lalu mengakui dosa umat dengan jujur dan rendah hati (ayat 6–7). Padahal secara pribadi Nehemia hidup benar. Namun ia tidak memisahkan diri dari kegagalan bangsanya. Ia berdiri sebagai bagian dari umat yang bersalah dan membutuhkan belas kasihan Tuhan. Di tengah pengakuan itu, Nehemia berpegang pada Firman. Ia mengingat janji Tuhan yang disampaikan melalui Musa, bahwa jika umat bertobat dan kembali kepada-Nya, Tuhan akan mengumpulkan mereka kembali, bahkan dari tempat yang paling jauh (ayat 8–9). Nehemia percaya bahwa Tuhan yang mengizinkan pembuangan bukanlah Tuhan yang meninggalkan umat-Nya.

Pasal ini ditutup dengan permohonan sederhana agar Tuhan memberi belas kasihan di hadapan raja (ayat 11). Ia menyerahkan langkah berikutnya kepada Tuhan. Pasal ini memang berakhir tanpa solusi yang terlihat, namun justru dari doa inilah seluruh pemulihan dimulai. Sebelum tembok Yerusalem dibangun kembali, Tuhan ingin terlebih dulu membangun hati seorang pemimpin yang peduli dan taat. Maka kiranya melalui renungan hari ini, kita mau belajar untuk lebih peka dengan kebutuhan dan permasalahan saudara-saudara di sekitar kita dan memberi diri untuk dipakai Tuhan menjadi alat-Nya demi kemuliaan nama-Nya. Dengan demikian, kita ikut mengambil bagian dalam membangun kerajaan Allah di dunia ini.

Pertanyaan Renungan:

  1. Ketika melihat kerusakan di sekitar kita, apa respons pertama kita: acuh tak acuh, asal bertindak, atau justru berdoa?
  2. Apakah hati kita masih cukup peka untuk menangisi apa yang Tuhan tangisi?

Doa:

Tuhan, ajar kami memiliki hati yang peduli seperti Nehemia. Beri kami kepekaan untuk melihat dan merasakan beban umat-Mu. Tuntun kami untuk datang kepada-Mu dalam doa sebelum melangkah dan bertindak. Bentuklah hati kami agar selaras dengan kehendak-Mu. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading