Berikut merupakan bagian 2 dari 8 seri renungan “Membangun dan memelihara iman” dari kitab nehemia
Jika Nehemia 1 berbicara tentang hati yang digerakkan Tuhan lewat doa dan tangisan, maka selanjutnya Nehemia 2 menunjukkan kelanjutan yang tidak kalah penting, yakni keberanian untuk melangkah. Doa yang sejati tidak berhenti di mulut, tetapi berlanjut dalam langkah iman yang nyata.
Setelah berbulan-bulan berdoa dan menantikan waktu Tuhan untuk membangun kembali tembok Yerusalem, akhirnya pintu itu terbuka. Nehemia, yang sebelumnya hanya bisa menangis dan berdoa di hadapan Tuhan, kini berdiri di hadapan raja Artahsasta dengan keberanian yang lahir dari kebergantungan pada Allah. Ia berani meminta, berani menyampaikan beban hatinya, dan berani mempercayakan hasilnya kepada Tuhan. Nehemia tidak memaksakan waktunya sendiri, tetapi peka terhadap momen yang Tuhan sediakan, yaitu saat ia sedang menjalankan tugasnya dan raja sendiri bertanya tentang keadaannya. Iman bukanlah sikap pasif yang hanya menunggu Tuhan bertindak, tetapi kesiapan untuk bertindak dengan hikmat dan kebijaksanaan ketika pintu itu dibuka. Nehemia memakai posisi yang Tuhan percayakan kepadanya, meskipun terlihat biasa, sebagai alat untuk pekerjaan Tuhan. Di kehidupan kita hari ini, kita mungkin tidak berdiri di hadapan raja, tetapi Tuhan menempatkan kita di dunia vokasi masing-masing: di tempat kerja, universitas, rumah, atau komunitas. Di sanalah Tuhan mau bekerja. Kesetiaan dan keberanian kita di tempat itu bisa menjadi alat Tuhan untuk menjangkau banyak orang. Ketika kita memakai waktu, relasi, dan posisi yang ada untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan, kita sedang melangkah dalam iman, sama seperti Nehemia..
Nehemia tidak berhenti pada izin raja. Ia melangkah lebih jauh dengan memimpin, menyusun rencana, dan mengambil tanggung jawab. Ia datang ke Yerusalem, melihat kondisi dengan mata kepala sendiri, lalu mulai bergerak. Namun langkah iman ini tidak bebas dari tantangan, yang segera muncul dari orang-orang seperti Sanbalat dan Tobia, orang Amon, yang meremehkan dan menentang pekerjaan Tuhan. Tetapi Nehemia tidak gentar. Fokusnya bukan pada ancaman, melainkan pada keyakinan bahwa Tuhan menyertainya. Ini menjadi pengingat penting bagi kita. Ketika kita melangkah dalam kehendak Tuhan, tantangan bukan selalu menjadi tanda bahwa kita salah jalan. Justru sering kali tantangan datang ketika kita sedang berada di jalur yang benar. Keberanian Nehemia bukan karena ia merasa kuat, tetapi karena ia tahu siapa yang menyertainya. Selama Tuhan ada di pihak kita, kita tidak perlu takut.
Pasal ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Apakah doa-doa kita selama ini berhenti sebagai rutinitas rohani, ataukah sudah berbuah dalam langkah nyata? Apakah kita berani memakai posisi dan kesempatam yang Tuhan berikan hari ini untuk kemuliaan-Nya? Tuhan masih bekerja sampai hari ini dan Ia rindu melibatkan umat-Nya. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan sanggup membuka jalan, tetapi apakah kita mau melangkah ketika jalan itu dibuka.
Pertanyaan Renungan:
- Setelah berdoa, langkah iman apa yang Tuhan minta saya ambil hari ini?
- Di posisi dan lingkungan saya sekarang, bagaimana saya bisa dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain?
Doa:
Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang membuka jalan. Ajari kami untuk tidak hanya setia berdoa, tetapi juga berani melangkah dalam iman. Pakailah kami di tempat Engkau menempatkan kami saat ini, agar melalui hidup kami, nama-Mu dipermuliakan. Beri kami keberanian untuk taat, sekalipun ada tantangan di depan. Amin.

Leave a Reply