Berikut merupakan bagian 4 dari 8 seri renungan “Membangun dan memelihara iman” dari kitab nehemia
Setelah pekerjaan pembangunan dimulai dalam Nehemia 3, pasal berikutnya langsung menunjukkan realitas yang tidak mudah. Dalam Nehemia 4, muncul perlawanan dari luar. Sanbalat dan Tobia mengejek, merendahkan, dan berusaha melemahkan semangat orang-orang yang sedang membangun (ay. 1-3). Apa yang sebelumnya berjalan dengan penuh semangat, kini dihadapkan pada tekanan, ancaman dan rasa takut. Ejekan mereka bukan sekadar kata-kata. Dalam ayat-ayat selanjutnya, ancaman bahkan berkembang menjadi rencana serangan (ay. 8). Ini menunjukkan bahwa setiap pekerjaan yang berkenan kepada Tuhan sering kali tidak berjalan tanpa hambatan.
Respons Nehemia dan bangsa Israel menarik untuk diperhatikan. Mereka tidak berhenti membangun, tetapi mereka juga tidak mengabaikan realitas ancaman. Mereka berdoa kepada Tuhan, sekaligus mengambil langkah nyata dengan berjaga-jaga. Sebagian bekerja membangun tembok, sementara sebagian lainnya memegang senjata (ay.17). Mereka tetap fokus pada tugas mereka, tetapi dengan kewaspadaan yang tinggi. Di sini terlihat keseimbangan yang penting. Iman kepada Tuhan tidak berarti pasif, dan tindakan tidak berarti mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka berdoa, tetapi juga bertindak. Mereka percaya Tuhan melindungi, tetapi tetap bertanggung jawab menjaga apa yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam kehidupan sekarang, perlawanan juga bisa muncul dalam berbagai bentuk. Bisa berupa keraguan dari diri sendiri, tekanan dari lingkungan, atau bahkan pergumulan dengan dosa tertentu. Misalnya kalau ada yang sedang bergumul dengan dosa pornografi, mungkin sering kali kita hanya berhenti pada niat atau doa tanpa mengambil langkah nyata. Nehemia 4 menunjukkan bahwa respons yang benar adalah menggabungkan keduanya: bersandar kepada Tuhan sekaligus bertindak dengan tegas. Itu bisa berarti mengambil waktu untuk berdoa dan berpuasa, tetapi juga disertai langkah konkret seperti membatasi akses terhadap hal-hal yang memicu, memasang pemblokir situs, atau melibatkan sahabat dekat kita yang kita percaya sebagai accountability partner.
Langkah-langkah ini mungkin terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah keseriusan kita terlihat dalam menjaga hidup yang Tuhan percayakan. Tantangan bukan tanda untuk mundur, melainkan kesempatan untuk semakin bergantung kepada Tuhan sambil dengan setia dan bijaksana mengambil tindakan yang diperlukan. Seperti bangsa Israel yang membangun dengan satu tangan dan memegang senjata dengan tangan yang lain, kita pun dipanggil untuk tetap berjalan maju dengan iman yang nyata dalam tindakan.
Pertanyaan Renungan:
- Bagaimana saya biasanya merespons ketika menghadapi tekanan atau perlawanan dalam kehidupan saya?
- Langkah konkret apa yang perlu saya ambil hari ini untuk menjaga hidup saya dari hal-hal yang menjauhkan saya dari Tuhan?
Doa:
Tuhan, kami menyadari bahwa mengikuti Engkau tidak selalu mudah. Ada tantangan, tekanan, dan bahkan perlawanan yang kami hadapi. Ampuni kami jika kami mudah takut dan kehilangan fokus. Tolong kami untuk tetap percaya kepada-Mu sebagai Tuhan yang besar dan berkuasa atas segala keadaan. Ajari kami untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga bertindak dengan bijaksana dan setia dalam setiap tanggung jawab kami. Kuatkan hati kami agar kami tidak menyerah, tetapi terus membangun apa yang Engkau percayakan, demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Leave a Reply