Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana kita dapat memiliki pengharapan dalam menjalani hidup di dunia ini? Sebagai pengikut Kristus, kita tahu bahwa Tuhan Yesus telah menghapus dosa-dosa kita. Namun, apakah kisah keselamatan Kristus berhenti di salib saja? Adakah pengharapan yang lebih besar bagi kita dalam menghadapi tantangan hidup, selain dari sukacita pengampunan dosa?
Mazmur 102 adalah doa seorang yang sedang bergumul dengan situasinya. Dari konteksnya, penderitaan itu tampaknya berkaitan dengan keruntuhan Sion (ay. 14–17). Dalam penderitaannya, pemazmur mencurahkan isi hatinya kepada TUHAN (ay. 1), menggambarkan tubuh yang melemah dan hati yang hancur. Hari-harinya terasa berlalu sia-sia dan tanpa makna (ay. 4), sementara kesedihan yang mendalam menggerogoti kekuatan fisik dan emosinya (ay. 5–6). Ia merasa terasing seperti burung undan di padang gurun atau burung ponggok di reruntuhan—sendirian, tanpa penghiburan, dan jauh dari kehangatan sesama (ay. 7–8). Penderitaannya semakin berat karena cercaan dan hinaan dari orang-orang di sekelilingnya (ay. 8–9), bahkan ia merasa seolah-olah Allah pernah mengangkatnya tinggi hanya untuk menjatuhkannya kembali (ay. 11).
Kita pun tidak bebas dari pergumulan-pergumulan. Hidup di dunia yang rusak ini mendatangkan banyak masalah, baik itu masalah dari apa yang kita sendiri lakukan atauapun yang orang lain lakukan kepada kita. Terkadang, apa yang kita alami dapat membawa kita ke dalam keputusasaan. Menghadapi pergumulan itu pun sulit, mengingat kekuatan kita terbatas.
Lalu apa pengharapan pemazmur? Di tengah kesulitan yang seakan tak berujung, ia menemukan penghiburan dalam keyakinan bahwa Allah tidak tinggal diam. Allah melihat kesesakan umat-Nya, mendengar seruan mereka, dan bertindak pada waktu-Nya (ay. 13–17). Ia percaya bahwa Allah sanggup memulihkan apa yang hancur, membangkitkan harapan dari keputusasaan, dan menyatakan kemuliaan-Nya (ay. 23). Di tengah dunia yang rapuh, pengharapan pemazmur berakar pada karakter Allah yang setia dan berdaulat—Allah yang tidak pernah mengabaikan seruan umat-Nya.
Sebagai orang percaya, kita memiliki pengharapan yang bahkan lebih pasti—karena kita tahu bahwa Kristus telah bangkit! Kebangkitan Kristus bukan hanya dasar iman kita, melainkan juga sumber pengharapan hidup kita. Seperti yang dikatakan Paulus, “Karena sama seperti maut datang karena satu orang, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang” (1 Kor. 15:21–22). Artinya kebangkitan Kristus juga memastikan kebangkitan kita.
Mengapa ini menjadi pengharapan bagi kita? Karena pengharapan Kristen bukan sekadar kesempatan untuk hidup kembali di dunia yang sama dan mengulangi penderitaan yang sama. Jika demikian, kebangkitan hanyalah sebuah “ulang dari awal” dalam dunia yang tetap rusak dan berdosa. Namun, kebangkitan Kristus menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar: kemenangan atas dosa dan maut serta janji kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16). Di dalam Kristus, pengharapan kita bukan hanya hidup kembali, melainkan hidup yang diperbarui sepenuhnya dalam hadirat Allah untuk selama-lamanya.
Dalam kebangkitan itu, Allah akan memulihkan segala sesuatu: tubuh kita, ciptaan-Nya, dan hubungan kita dengan Dia. Kita akan dibangkitkan dalam tubuh yang penuh kemuliaan, hidup di dunia yang telah dipulihkan, dan menyembah Allah selamanya dalam sukacita yang sempurna. Inilah pengharapan yang sejati—pengharapan yang tidak ditentukan oleh keadaan sekarang, melainkan oleh janji Allah yang kekal. Pengharapan inilah yang meneguhkan kita untuk tetap setia, bahkan di tengah penderitaan.
Pertanyaan Renungan:
- Baca Filipi 3:1-11. Bagaimana Paulus, meskipun berada dalam penjara, dapat tetap menemukan sukacita dalam penderitaan yang ia alami?
- Di dalam pergumulan apapun yang kita alami saat ini, apakah kita dapat menemukan sukacita sembari menanti akan kedatangan Kristus?
Doa:
Bapa, kami mengucap syukur karena Kristus telah bangkit, dan kebangkitan-Nya menjadi fondasi bagi iman kami. Kami bersyukur bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa yang terjadi sekali dalam sejarah, tetapi juga janji yang akan kami alami kelak. Mampukanlah aku untuk berharap dan bersandar sepenuhnya pada janji kekekalan ini. Dan mampukanlah aku untuk tetap setia dan bersukacita, sekalipun aku masih berada dalam pergumulan.

Leave a Reply