Mazmur 86

Pernahkah terpikirkan, mengapa jika Tuhan telah menyelamatkan kita dari hukuman dosa—yaitu maut—kita tetap harus melewati berbagai pencobaan, penderitaan, dan tantangan dalam hidup? Bukankah lebih mudah jika setelah diselamatkan, Tuhan juga mengangkat semua kesulitan kita? Atau mungkin langsung mengangkat kita ke surga?

Mazmur 86 membawa kita masuk ke dalam pergumulan Daud menghadapi ancaman yang nyata. Saat itu, orang-orang bangkit menyerangnya dan berusaha mencabut nyawanya (ay. 14). Di tengah keadaan itu, Daud tidak berpura-pura kuat. Ia datang kepada Allah dan dengan tekun memohon pertolongan-Nya.

Menariknya, ketika menyampaikan permohonannya, Daud tidak menjadikan dirinya sebagai alasan mengapa Allah harus menolongnya. Ia tidak mengungkit kesetiaannya, keberaniannya, ataupun jasa-jasanya. Sebaliknya, berulang kali ia mengarahkan pandangannya kepada siapa Allah itu. Allah adalah Pribadi yang baik, penuh kasih setia, berlimpah belas kasihan, dan selalu mendengar seruan umat-Nya (ay. 3, 5, 7, 10, 15). Daud menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk meminta pertolongan Allah didasari oleh diri sendiri. Kesadaran inilah yang menunjukkan kerendahan hatinya sekaligus pengenalannya akan Allah.

Namun doa Daud ternyata tidak berhenti pada permohonan agar kesulitannya segera berakhir. Di ayat 11, fokus doanya berubah. Ia berkata, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.” Di tengah ancaman yang sedang dihadapinya, Daud justru memohon agar Allah mengajar dan menuntunnya. Ia memahami bahwa kebutuhan terdalamnya bukan hanya keselamatan secara fisik, tetapi hati yang semakin mengenal dan takut akan Allah.

Di sinilah kita melihat cara Daud memandang penderitaan. Masalah bukan sekadar sesuatu yang harus segera disingkirkan, melainkan salah satu sarana pembentukan diri kita. Allah yang telah menyelamatkannya dari dunia orang mati (ay. 13) adalah Allah yang sama yang terus membentuk, mengajar, dan memelihara hidupnya melalui setiap pergumulan. Keselamatan bukan hanya tentang dibebaskan dari hukuman dosa, tetapi juga tentang bagaimana Allah terus memakai perjalanan hidup kita untuk membawa kita semakin mengenal Dia.

Inilah inti dari konsep keselamatan yang diajarkan Alkitab—bahwa Allah, oleh karena kasih-Nya, menyelamatkan orang berdosa. Keselamatan hanya dapat diterima oleh mereka yang menyadari bahwa dirinya berdosa dan membutuhkan pertolongan dari Allah. Ini bukanlah upah atas jasa, melainkan anugerah karena apa yang telah dilakukan oleh Kristus, Anak-Nya (Galatia 6:14). Di dalam Kristus, kita melihat bukti nyata kasih setia Allah yang berinisiatif menolong umat-Nya. Namun kasih setia itu tidak berhenti di kayu salib, melainkan terus-menerus membentuk kita dan sekaligus memelihara, menopang, dan menyertai umat-Nya untuk semakin serupa dengan Kristus dan mengenal-Nya (Roma 8:32–39).

Masalah terbesar dalam hidup kita—dosa dan keterpisahan dari Allah—telah diselesaikan oleh Kristus di atas kayu salib. Meskipun demikian, kita tetap menghadapi berbagai masalah lain dalam hidup, seperti relasi yang rusak, penyakit, kesulitan keuangan, tekanan pekerjaan, studi, dan masalah-masalah lainnya. Masalah-masalah ini bukanlah suatu keanehan dalam hidup orang percaya, melainkan salah satu bagian dari anugerah Allah di dalam pembentukan kita. Melaluinya, kita diajar untuk bersandar pada kasih setia Allah dan semakin mengenal-Nya di dalam kasih pemeliharan-Nya sepanjang hidup kita. Kiranya Roh Kudus—jaminan yang diterima oleh setiap orang percaya (Efesus 1:13)—senantiasa menguatkan kita dan menolong kita bertumbuh dalam pengenalan akan Allah yang setia.

Pertanyaan Renungan:

  1. Bagaimana kita melihat tantangan atau kesulitan yang kita hadapi saat ini? Apakah kita mempertanyakan kasih Allah atau justru menemukan kasih-Nya?
  2. Bagaimana kita menghadapi tantangan atau kesulitan? Apakah kita datang ke Tuhan dengan bersandar kepada Allah atau diri sendiri?

Doa:

Tuhan, Engkau melihat tantangan dan kesulitan yang aku alami ini. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu. Jadikanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading