Setiap orang pasti menghadapi tantangan di dalam hidup. Tantangan-tantangan hidup itu berbeda-beda dan kita mengalami masa ketika masalah datang bertubi-tubi, sampai rasanya sulit untuk tetap tenang. Kita mencoba percaya kepada Tuhan, tetapi di dalam hati masih ada kegelisahan, ketakutan dan putus asa.
Mazmur ini ditulis oleh bani Korah, keturunan suku Lewi yang bertugas mengurus musik dan puji-pujian di Bait Allah (1 Tawarikh 6:33-38). Di Mazmur 42-43, bani Korah menyampaikan kerinduan mereka yang mendalam kepada Allah, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair.
Kata “rindu” di sini menggambarkan keinginan yang begitu intens, seperti seseorang yang berada di padang gurun yang gersang, sangat mendambakan air yang segar—sebuah kebutuhan yang sangat mendesak untuk sesuatu yang vital.
Mengapa kerinduan ini begitu kuat? Karena pemazmur merasakan tekanan yang berat dalam hidupnya – khususnya bagi dia adalah dari orang-orang yang menantang imannya (ay. 4). Kesedihan dan penderitaannya digambarkan seperti gelombang air yang terus-menerus menghantamnya, membuatnya merasa tenggelam dan tak berdaya (ay. 8). Dalam situasi yang penuh goncangan, seperti gelombang air yang menggoyahkan, jiwa pemazmur pun gelisah. Tekanan bertambah besar ketika orang-orang terus-menerus mencelanya sepanjang hari (ay. 4, 11).
Tetapi meskipun ia merasakan kegelisahan yang mendalam dan meski sulit baginya untuk melihat kehadiran Allah, ia terus berusaha untuk berharap kepada Allah (ay. 6-7).
Pemazmur tidak menyangkal kegelisahannya. Ia mengakuinya. Namun, ia juga tidak membiarkan kegelisahan menjadi suara terakhir dalam hidupnya. Di tengah kegelisahan dan keraguan, pemazmur tetap berusaha untuk mencari pengharapan dalam TUHAN (ay. 12). Ia terus mengarahkan dirinya untuk tetap percaya dan menantikan pertolongan dari Allah.
Momen-momen seperti ini adalah peperangan batin yang terjadi dalam hidup orang Kristen. Ketika keputusasaan menghampiri, seringkali itu berasal dari campuran tekanan hidup sehari-hari, kesedihan, harapan yang tak terpenuhi, atau dahaga rohani yang terpendam.
Masalah demi masalah datang seperti gelombang yang seolah-olah menenggelamkan kita, membuat kita merasa tak berdaya. Kita mungkin bertanya, mengapa Allah membiarkan semua ini terjadi? Tetapi seringkali, melalui kesulitan-kesulitan inilah kita belajar menghidupi iman kita secara nyata. Di tengah kesulitan, Allah dapat menggunakan pergumulan yang kita alami untuk membentuk dan memperdalam kepercayaan kita kepada-Nya.
Memang ini suatu hal yang sulit sekali, namun sama seperti pemazmur kita perlu belajar berbicara kepada batin kita yang gelisah. Kita perlu belajar mengingatkan diri kita sendiri akan janji-janji Tuhan kepada kita. Kita perlu belajar berbicara kepada diri kita sendiri akan kasih dan kedaulatan Allah.
Tentang hal ini John Piper mengatakan: “Perjuangan melawan keputusasaan adalah perjuangan untuk mempercayai janji-janji Allah. Dan kepercayaan akan kasih karunia Allah di masa depan datang melalui pendengaran firman. Oleh karena itu, memberitakan firman Allah kepada diri sendiri adalah inti dari perjuangan ini.”
Ketika kita sulit melihat kasih Allah dalam keadaan kita, kita dapat melihat kembali kepada salib. Di sana kita memiliki bukti yang tidak bergantung pada perasaan kita: Allah telah mengasihi kita sedemikian rupa sehingga Ia memberikan Anak-Nya bagi kita. Melalui salib, Allah menunjukkan bahwa Dia tidak pernah melupakan atau meninggalkan kita.
Jadi, apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri akan Firman Tuhan, terus berpegang teguh atas kasih, kedaulatan dan janji-janji Allah. Kita perlu berperang melawan kebohongan-kebohongan iblis dan bersandar kepada kebenaran yang nyatakan.
Latihan disiplin rohani:
-
Ketika jiwa kita gelisah dan putus asa, datang kepada Allah membawa segala perasaan dan pikiran kita. Biarlah Allah mengisi menyegarkan jiwa kita dan mengingatkan kita akan janji-janji-Nya.
Doa:
Tuhan, aku datang kepada Engkau dengan keyakinan bahwa Engkau sumber kekuatanku. Aku percaya bahwa Engkau akan memberikan kelegaan dalam beban yang aku pikul saat ini. Aku berharap kepada-Mu sebab Engkau penolong dan Allahku.

Leave a Reply