Spoiler Alert! Sinopsis The Odyssey
Baru-baru ini Christopher Nolan membuat sebuah film berjudul “The Odyssey”, yang diangkat dari karya Homer, seorang penyair Yunani kuno. Sekilas, kisah ini tampak seperti perjalanan panjang Odysseus, raja Ithaka, yang berusaha pulang setelah Perang Troya. Namun, di balik perjalanan pulang itu, film ini menyoroti persoalan yang lebih dalam: bagaimana seseorang hidup setelah menyadari bahwa tindakannya telah membawa kehancuran bagi orang lain.
Strategi kuda Troya merupakan strategi yang muncul dari Odysseus dan strategi inilah yang membuat pasukan Yunani menang atas Troya. Namun, kemenangan itu juga dibangun di atas tipu daya yang merusak kepercayaan dan menodai nilai kehormatan serta keramahtamahan yang dianggap sakral (“Hukum Zeus”). Keberhasilan Odysseus tidak datang tanpa biaya moral: tipuannya menghancurkan Troya, sekaligus meninggalkan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Strategi Odysseus membuka pertanyaan moral yang lebih besar: jika kemenangan dapat diperoleh melalui tipu daya, apa yang masih menahan manusia untuk hidup dengan hormat dan jujur? Setelah melihat kehancuran yang mengikuti strateginya, Odysseus dipenuhi penyesalan. Ia mulai menyadari bahwa kecerdikannya bukan hanya membawa kemenangan, tetapi juga kematian dan kehancuran yang tidak dapat ia batalkan.
Dari titik inilah pembacaan film ini menjadi menarik. Kesalahan Odysseus bukan hanya masalah strategi perang, melainkan luka moral yang terus mengikuti perjalanan pulangnya. Karena itu, setiap rintangan yang ia hadapi dapat dibaca bukan hanya sebagai hambatan fisik, tetapi juga sebagai gambaran pergumulan batin seorang manusia yang ingin pulang namun belum siap berdamai dengan dirinya sendiri.
The Odyssey bukan tentang pertualangan
Meskipun film ini dipenuhi atmosfer petualangan—mulai dari perjalanan pulang yang panjang hingga perjumpaan dengan makhluk-makhluk mitologis seperti Cyclops, Circe, Sirene, dan tentara raksasa— “The Odyssey” yang disutradarai Christopher Nolan ini bukan sekadar kisah tentang Odysseus yang kembali ke Ithaka.
Seiring berjalannya film, perjumpaan Odysseus dengan Calypso memperlihatkan bahwa keterlambatannya pulang bukan hanya disebabkan oleh rintangan di luar dirinya. Ia juga belum siap kembali, karena pulang berarti menghadapi dirinya sendiri dan mengakui apa yang telah ia perbuat.
Ini bukan sekadar tentang perjalanan pulang setelah perang, melainkan tentang apakah Odysseus dapat kembali menjadi dirinya yang dulu. Monster-monster yang ia hadapi memang nyata dalam perjalanan itu, tetapi pergumulan terdalamnya adalah menghadapi sisi dirinya sendiri yang telah dibentuk oleh tipu daya, kekerasan, dan rasa bersalah.
Odysseus bergulat dengan pertanyaan apakah ia masih dapat hidup dengan dirinya sendiri setelah semua yang telah ia lakukan. Ia menjadi kecanduan memakan bunga yang membuatnya melupakan trauma perjalanan dan rasa bersalahnya. Sampai sosok Athena terus-menerus mengundang dia untuk pulang bukan hanya untuk kembali ke Ithaka, tetapi juga panggilan untuk mengingat siapa dirinya dan menerima kenyataan yang selama ini ia hindari.
Usaha Odysseus memperbaiki keadaan
Setelah Calypso menolongnya untuk mengingat dan menghadapi apa yang terjadi dalam dirinya, Odysseus akhirnya siap dan mulai memperbaiki keadaan. Dia mulai lagi perjalanan pulangnya ke Ithaka.
Bagian-bagian terakhir film menunjukkan usaha Odysseus memperbaiki keadaan, termasuk ketika ia membunuh orang-orang yang ingin melamar istrinya. Tindakan ini ia lakukan karena ia menyadari bahwa jika anaknya yang menanggung pembantaian itu dan kemudian mewarisi takhta, putranya akan terjebak dalam siklus yang sama: memimpin dengan beban darah, penyesalan, dan masa lalu yang terus menghantui.
Terlebih lagi, dengan memberikan takhta kepada anaknya, Odysseus menyadari bahwa tindakan-tindakannya di masa lalu menjadikannya sosok yang terlalu rusak untuk memimpin Ithaka dengan damai.
Adegan terakhir film ini menunjukkan usaha terakhir Odysseus untuk memperbaiki keadaan. Odysseus menerima kenyataan bahwa ia harus membawa serta luka batinnya. Jadi apa yang dia lakukan? Dia bersama dengan istrinya berlayar jauh “mengejar matahari”, sembari secara aktif menghormati para pasukannya yang telah gugur dan ia tinggalkan. Kalimat terakhir yang ia ucapkan adalah “Fajar baru akan menyingsing di dunia yang diliputi kegelapan, dan kesalahan-kesalahan kita akan kembali terlupakan.”
The Odyssey kurang tepat sasaran
Adaptasi The Odyssey karya Christopher Nolan mengajukan pertanyaan yang juga terasa dekat dengan Oppenheimer: apa yang harus dilakukan seseorang ketika ia menyadari bahwa tindakannya di masa lalu telah merugikan banyak orang, sementara masa lalu itu tidak dapat dibatalkan?
Film The Odyssey menunjukkan bahwa untuk memiliki penyesalan atau rasa bersalah itu tidak cukup, harus ada suatu hal yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Odysseus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat membatalkan yang ia lakukan, tetapi ia tetap bisa melakukan sesuatu untuk setidaknya tidak memperburuk keadaan. Pada dasarnya, Odysseus bertobat.
Sebenarnya, ini juga mencerminkan apa yang Firman Tuhan ajarkan kepada kita: rasa bersalah tidak boleh berhenti pada penyesalan, tetapi harus membawa manusia kepada pertobatan. Namun, The Odyssey kurang tepat sasaran karena film ini menggambarkan pertobatan terutama sebagai usaha manusia untuk memperbaiki keadaan, tanpa menunjukkan kebutuhan akan pengampunan yang datang dari luar diri manusia.
Film ini dibuat sedemikian rupa sehingga usaha Odysseus memperbaiki keadaan terasa seperti jawaban yang cukup. Tentu, ketika kita melakukan kesalahan, kita memang perlu bertobat dan berusaha memperbaiki keadaan sebisa mungkin. Namun, jika pemulihan hanya bergantung pada usaha manusia, rasa bersalah, atau ketakutan, maka masa lalu yang rusak tidak pernah benar-benar dipulihkan; manusia hanya berusaha menanggung sendiri beban yang tidak sanggup ia selesaikan.
Realitanya, perasaan bersalah tetap ada, kita mungkin mengharapkan orang lain untuk memvalidasi atau memaafkan kita. Akhirnya kita tetap terjebak dalam luka lama dan menyalahkan diri sendiri. Semua ini terjadi, karena fokus kita hanya kepada apa yang bisa kita lakukan.
Raja Odysseus vs Raja Daud
Alkitab juga sebenarnya menceritakan kisah yang mirip tentang seorang raja yang melakukan suatu kesalahan dan tidak dapat membatalkan perbuatannya. Raja ini bernama Daud.
Ia mengambil istri dari prajuritnya bernama Uria, menidurinya dan membuat strategi sedemikian rupa sehingga Uria meninggal dalam pertempuran tanpa mengetahui apa yang Daud lakukan. Uria merupakan prajurit yang setia, namun Daud melanggar kesetiaan dan kepercayaan Uria terhadapnya itu.
Apa yang Daud lakukan? Setelah ditegur oleh Natan, Daud merasa bersalah dan bertobat. Dia mengakui kesalahannya, menerima konsekuensinya, bertanggung jawab dan menghibur Batsyeba, serta kembali melakukan tugasnya sebagai raja dan berperang.
“Dosa bukanlah suatu kotoran yang bisa kita bersihkan sendiri”
Ini mirip dengan apa yang Odysseus lakukan. Namun, Mazmur 51 mencatat seruan pertobatan dan permohonan pengampunan Daud terhadap Allah. Daud sadar, apa yang ia lakukan tidak hanya salah, tetapi ia sadar kepada siapa ia telah bersalah (ay.4-6). Dia mengakui dosa-dosanya dan meminta pengampunan kepada Allah.
Daud sadar ini merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah dan ia perlu datang kepada Allah minta pengampunan. Daud tahu jelas bahwa dosa bukanlah suatu kotoran yang bisa kita bersihkan sendiri.
Seberapapun kebaikan yang kita usahakan, tidak akan pernah bisa menghilangkan pelanggaran-pelanggaran kita. Dosa bukanlah kesalahan kecil yang bisa dihapus dengan tombol “hapus” atau “Ctrl+Z”. Ketika seseorang berdosa, dosa itu sungguh terjadi dan tidak bisa dibatalkan.
Daud memang berusaha untuk memperbaiki keadaan, namun usaha itu bukan untuk merasa nyaman dan tidak bersalah, tetapi karena kesadaran bahwa ia telah diampuni (ay.12-17).
Inilah yang membedakan Daud dengan Odysseus. Odysseus berusaha untuk memperbaiki keadaan dan menerima segala konsekuensi perbuatannya dengan harapan bahwa kesalahannya dilupakan. Sebaliknya, Daud berusaha untuk memperbaiki keadaan dan menerima segala koneskuensinya karena kesalahannya telah dilupakan oleh Allah.
Pandanglah pada Sang Raja
“Keyakinan kita tidak bertumpu pada kemampuan kita memperbaiki diri, pada perbuatan baik kita, atau bahkan pada pertobatan kita sendiri. Keyakinan itu bertumpu pada apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.”
Penyesalan saja tidaklah cukup. Pertobatan itu perlu. Namun, pertobatan pun tidak menyelamatkan kita —kita membutuhkan kasih karunia dan penebusan dosa.
Injil memberikan kita kabar baik, bahwa Allah bersedia menolong kita. Ia begitu mengasihi kita, sehingga Ia memberikan kepada kita seorang Raja (Yoh. 3:16). Raja ini tidak berdosa dan tidak melakukan kesalahan apapun, namun Ia bersedia menderita dan memikul segala kesalahan-kesalahan kita. Di atas kayu salib, Ia menerima semua konsekuensi dosa kita dan oleh luka-luka-Nya kita sembuh (1 Petrus 2:22-24).
Kita semua pasti melakukan kesalahan. Mungkin kesalahan yang kita lakukan begitu fatal dan membawa banyak konsekuensi. Mungkin, kita ingin meminta maaf kepada mereka yang kita lukai, namun hal itu tidak memungkinkan.
Namun, melalui pertobatan Daud kita dapat belajar dua hal:
- Kita dapat bertobat, datang kepada Kristus mengakui segala dosa kita dan menerima pengampunan dosa.
- Kita dapat berusaha lebih baik karena kita bersyukur atas pengampunan dosa itu.
Ini berarti kita tidak perlu lagi menyalahkan diri dan terjebak dalam luka lama.
Seperti Odysseus yang berharap kesalahannya dilupakan, kita juga dapat memiliki keyakinan akan pengampunan. Namun, keyakinan kita tidak bertumpu pada kemampuan kita memperbaiki diri, pada perbuatan baik kita, atau bahkan pada pertobatan kita sendiri. Keyakinan itu bertumpu pada apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.

Leave a Reply