Pernahkah kita memiliki utang kepada seseorang dan terus memikirkan bagaimana cara melunasinya? Ketika orang tersebut sudah begitu baik kepada kita, mungkin kita merasa tidak enak jika tidak membalasnya. Tetapi bagaimana jika yang kita terima bukan sekadar kebaikan, melainkan anugerah yang tidak mungkin pernah kita lunasi? Bagaimana kita merespons anugerah Allah yang begitu besar?
Mazmur 141 adalah mazmur doa Daud yang memohon perlindungan Allah dari musuh-musuh di luar dirinya sekaligus dari godaan batin yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa.
Daud sedang berada dalam keadaan yang mendesak, sehingga ia memanjatkan doa kepada Allah. Dalam ayat 2, Daud menggambarkan doanya sebagai persembahan kepada Allah. Ia datang bukan hanya dengan membawa sesuatu kepada Allah, tetapi dengan mengarahkan dirinya kepada Allah melalui doa.
Jika seseorang berbuat baik kepada kita—menolong, meminjamkan uang, memberikan tumpangan, dan sebagainya—sudah sewajarnya kita ingin membalas kebaikan tersebut. Itu merupakan respons yang natural ketika kita menerima kebaikan dari orang lain.
Namun, ketika Allah melimpahkan anugerah-Nya kepada kita, bagaimana mungkin kita membalas kebaikan-Nya? Apa yang dapat kita berikan kepada Pencipta alam semesta dan pemilik segala sesuatu?
Setelah menguraikan kemurahan Allah, Paulus mendorong kita untuk mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai respons terhadap kemurahan-Nya (Roma 12:1). Namun, menariknya, bahkan kemampuan kita untuk mempersembahkan hidup kepada Allah pun merupakan anugerah-Nya.
Dalam 1 Kor 15:10, Paulus mengatakan bahwa usaha dia untuk hidup kudus dan menjadi berkat bagi orang lain merupakan anugerah Allah. Jadi pada prinsipnya segala kebaikan yang kita lakukan itu sendiri merupakan anugerah dari Allah.
Karena itu semakin kita hidup dalam anugerah dan semakin kita melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan berasal dari anugerah Allah, semakin kita menyadari bahwa kita tidak pernah dapat “melunasi” utang kasih karunia tersebut.
Jadi apa yang bisa kita lakukan? Tentu rasa syukur dan menjalani hidup yang mencerminkan rasa syukur itu penting. Namun, kita tidak membalas anugerah Allah dengan mencoba membayar-Nya kembali. Kita merespons anugerah dengan terus datang kepada-Nya, menerima pertolongan-Nya, dan hidup di dalam anugerah yang telah Ia berikan.
Doa dan permohonan Daud kepada Allah merupakan persembahan yang indah kepada Allah karena ia mengakui kelemahannya sendiri dan memerlukan pertolongan Allah. Daud mengerti bahwa membalas kebaikan Allah bukan dengan bersyukur dan bersukacita saja, melainkan juga dengan terus-menerus meminta anugerah-Nya.
Kita tidak pernah dapat membalas anugerah Allah dengan perbuatan kita, karena bahkan kemampuan kita untuk melakukan kebaikan adalah anugerah-Nya. Karena itu, respons kita bukan berusaha melunasi anugerah tersebut, melainkan terus datang kepada-Nya, menerima anugerah-Nya, dan hidup di dalam anugerah yang telah Ia berikan.
Pertanyaan Renungan:
- Apakah kita melihat kehidupan kita seperti sebuah transaksi membayar utang atas anugerah Allah?
Doa:
Tuhan, terima kasih atas anugerah-Mu yang berlimpah di dalam hidupku. Aku tahu aku tidak akan dapat membalas anugerah-Mu dengan segala perbuatanku dan bahkan pelayanan dan kebaikan yang aku usahakan –itu semua hanyalah rasa syukurku. Maka dari itu, aku berdoa kepada Engkau untuk mencari dan menerima anugerah-Mu. Amin.

Leave a Reply