Mazmur 105 adalah mazmur pujian bangsa Israel kepada Allah atas kesetiaan-Nya sepanjang sejarah mereka. Dalam mazmur ini, pemazmur mengingat kembali perjanjian Allah kepada Abraham bahwa Ia akan memberkati Abraham dan keturunannya, serta melalui mereka bangsa-bangsa lain akan menerima berkat (Kej. 12:2–3).
Walaupun janji itu tidak langsung digenapi, Allah terus meneguhkan perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub dari generasi ke generasi (Kej. 26:3). Pada masa Yakub, jumlah keturunan Abraham masih sedikit dan mereka hidup mengembara dari satu bangsa ke bangsa lain. Namun, mereka tetap memiliki pengharapan karena Allah telah berjanji untuk membuat keturunan mereka menjadi besar dan menjadi berkat bagi banyak bangsa.
Namun, nampaknya tidak demikian. Justru ketika jumlah mereka masih sedikit, Allah mendatangkan kelaparan atas negeri itu. Ini merupakan suatu hal yang buruk. Bagaimana mereka dapat menjadi banyak ketika mereka sendiri tidak dapat bertahan hidup? Pada waktu yang sama, Yusuf, anak Yakub, dijual oleh saudara-saudaranya menjadi budak di Mesir (Kej. 37). Yusuf mengalami banyak penderitaan, tetapi Allah tetap menyertainya hingga ia diangkat menjadi penguasa di Mesir. Melalui Yusuf, keluarga Israel akhirnya datang ke Mesir dan berkembang menjadi bangsa yang besar.
Dengan Yusuf menjadi penguasa di Mesir, TUHAN membuat bangsa Israel sangat subur, bahkan lebih kuat daripada bangsa-bangsa di sekitarnya (ay. 24). Namun, ketika jumlah mereka semakin banyak, orang Mesir mulai membenci dan memperbudak mereka. Keadaan ini tampak bertentangan dengan janji Allah, tetapi Allah tetap bekerja di balik semua peristiwa itu. Ia mengutus Musa untuk membebaskan Israel dan menunjukkan kuasa-Nya melalui berbagai tanda dan mukjizat. Allah menuntun mereka keluar dari Mesir, memelihara mereka di padang gurun, dan menunjukkan bahwa seluruh rangkaian peristiwa—baik yang sulit maupun yang baik—berada di bawah kedaulatan-Nya sebagai bagian dari penggenapan janji-Nya kepada Abraham.
Melihat keseluruhan mazmur ini, menarik bahwa pemazmur tidak hanya mencatat peristiwa sejarah, tetapi menyadari bahwa semuanya terjadi di bawah kedaulatan dan kehendak Allah. Allah sendiri yang memimpin Israel melalui masa-masa sulit maupun masa-masa baik. Allah sendiri yang melakukan dan mengerjakan semua itu karena Ia mengingat janji-Nya kepada Abraham. Di sini kita melihat bagaimana Allah secara aktif berkarya dan mengatur –bahkan dalam situasi buruk yang sedang dialami.
Kedaulatan dan kesetiaan Allah mencapai puncaknya dalam karya-Nya melalui satu keturunan Abraham, yaitu Tuhan Yesus. Melalui Kristus, banyak bangsa ditebus dan dibentuk menjadi “bangsa” baru, yaitu umat Kerajaan Allah melalui iman kepada-Nya. Melalui karya salib Kristus, kita dapat berpegang teguh pada seluruh janji Allah (2 Kor. 1:20). Sama seperti Allah setia menggenapi janji-Nya kepada Abraham dan Israel, kita pun dapat percaya pada janji-janji-Nya karena kita adalah milik Kristus (Gal. 3:29). Kebenaran ini memberi ketenangan, sebab Alkitab penuh dengan janji Allah—penyertaan, keadilan, dan penghiburan-Nya bagi umat-Nya.
Kebenaran ini menjadi penghiburan khususnya ketika kita melewati masa-masa sulit. Karena kita dapat berpegang pada janji-Nya, kita dapat percaya bahwa dalam setiap hal, baik maupun buruk, Allah bekerja secara aktif bagi kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Kita dapat memiliki keyakinan bahwa Allah sanggup memakai bahkan situasi yang buruk sekalipun untuk membawa kebaikan, karena Ia memelihara hidup umat perjanjian-Nya (Kej. 50:20).
Pertanyaan Renungan:
- Bagaimana kita melihat kehadiran Allah di dalam tantangan hidup yang kita alami? Apakah selama ini kita sadar bahwa Allah hadir memimpin kita?
- Janji apa yang kita dapat sebagai anak Kristus (Baca: 2 Kor. 5:17, Efe. 2:10, Yoh. 10:27-29, Fil. 4:7, 2 Kor. 1:20)*. Maukah kita berpegang teguh pada janji-Nya?
* Di dalam Alkitab terdapat janji-janji Allah melebihi yang ditulis disini. Silakan menulis di kolom komentar, janji-janji Allah lain-nya, yang kalian ketahui. Kiranya menolong dan menguatkan pembaca lain-nya
Doa:
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenal kelemahanku tapi tetap mau memanggilku. Ampuni aku kalau sering ragu dan menilai diriku tidak cukup. Hari ini aku mau belajar percaya, bahwa yang Engkau butuhkan bukan kesempurnaanku, tapi kesediaanku. Ajar aku berjalan bersama-Mu, dan biarlah Engkau yang menyertai serta mengajar aku langkah demi langkah. Dalam nama Yesus aku berdoa dan mengucap syukur. Amin.

Leave a Reply