Nehemia 13

Berikut merupakan bagian 8 dari 8 seri renungan “Membangun dan memelihara iman” dari kitab nehemia

Pernahkah kita sudah mengambil keputusan untuk berubah, tetapi beberapa waktu kemudian kembali kepada kebiasaan/dosa lama? Kita mungkin pernah merasa sangat dekat dengan Tuhan, meninggalkan sesuatu yang salah, atau berkomitmen untuk hidup lebih baik. Namun tanpa sadar, kita kembali berkompromi. Nehemia 13 menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya membutuhkan keputusan sekali, tetapi hati yang terus-menerus dijaga dan diarahkan kepada Tuhan.

Setelah tembok Yerusalem selesai dibangun, bangsa Israel telah berjanji untuk hidup menurut perintah Tuhan. Namun ketika Nehemia kembali ke Yerusalem setelah beberapa waktu, ia menemukan bahwa mereka mulai kembali kepada kehidupan lama. Tobia mendapat tempat di Bait Allah (ay. 4-9), pelayanan orang Lewi diabaikan (ay. 10-14), hari Sabat dilanggar (ay. 15-22), dan mereka kembali melakukan perkawinan dengan bangsa-bangsa lain (ay. 23-29). Mereka sudah tahu apa yang benar, tetapi perlahan-lahan mulai berkompromi.

Hal ini mengingatkan kita bahwa kemunduran rohani sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Kita mungkin tidak langsung meninggalkan Tuhan, tetapi mulai dari hal-hal kecil: doa yang semakin jarang, firman yang semakin diabaikan, dosa yang mulai ditoleransi, atau sesuatu yang perlahan mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita. Jika terus dibiarkan, kompromi kecil dapat membawa kita semakin jauh dari Tuhan.

Karena itu, kita perlu belajar untuk peka terhadap kondisi hati kita sendiri. Jangan hanya bertanya, “Apakah aku masih percaya kepada Tuhan?” tetapi juga, “Apakah hidupku masih menunjukkan bahwa Tuhan menjadi pusat hidupku?” Ketika menyadari bahwa kita mulai menjauh, jangan menunggu sampai keadaan menjadi lebih buruk. Kembalilah kepada Tuhan dan bereskan apa yang perlu dibereskan.

Menariknya, di tengah semua kegagalan bangsa Israel, Nehemia berkali-kali berdoa, “Ingatlah aku, ya Allahku” (ay. 14, 22, 31). Ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri untuk tetap setia. Kita membutuhkan Tuhan untuk terus menjaga dan memperbarui hati kita. Kita mungkin jatuh berkali-kali, tetapi kasih setia Tuhan selalu memanggil kita untuk kembali.

Pertanyaan Renungan:

  1. Apa “kompromi kecil” yang saat ini mulai kubiarkan dalam hidupku?
  2. Apakah ada sesuatu yang perlahan-lahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan?

Doa:

Tuhan, kami sadar bahwa sering kali kami mudah berkompromi dan kembali kepada kebiasaan lama. Tolong kami untuk peka ketika hati kami mulai menjauh dari-Mu. Berikan kami keberanian untuk meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Mu dan terus kembali kepada-Mu setiap hari. Jagalah hati kami agar Engkau tetap menjadi pusat hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Yuk, jadi berkat hari ini!

Kesaksian kali ini menjadi berkat bagimu? Bagikan, like dan ceritalah di kolom komentar, mungkin ini juga dapat menjadi berkat bagi orang lain!

Jika kamu merasa diberkati, mengapa tidak menjadi bagian dari berkat itu sendiri? Kamu bisa turut berkontribusi—melalui tulisan, dukungan, atau sekedar berbagi—agar lebih banyak orang merasakan dampak yang sama.

Mari bersama membangun ruang yang penuh makna ini. Karena setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.

Ayo turut berkontribusi disini!


Leave a Reply

Discover more from Come and Hear! #TogetherDevoted

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading